Popular Posts

Penguatan Klaster Industri Komponen Otomotif Terus Digenjot di Jatim

Media Online Bhirawa

Produksi dan permintaan kendaraan roda empat saat ini terus tumbuh. Dalam kurun waktu 2006 hingga 2010, produksi dan permintaan masyarakat meningkat rata-rata 5% per tahun dan diperkirakan terus meningkat seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan pendapatan masyarakat. Bahkan diperkirakan pada 2011, penjualan roda empat bisa menembus 780.000 unit. Pada 2010, permintaan kendaraan komersial jenis pikap GVW (Gross Vehicle Weight) di bawah 5 ton mencapai 101.648 unit atau meningkat hampir 90% dibandingkan tahun 2009. 

Kendaraan jenis pikap yang diproduksi di dalam negeri umumnya dengan kapasitas mesin di atas 1.000-2.400 CC dengan GVW 1.750 kg-2.500 kg dan bila dilihat dari sisi harga berkisar dari Rp 85-140 juta per unit. Dengan kondisi ini, berarti terdapat segmen pasar kendaraan angkutan barang yang belum dikembangkan produksinya. Segmen pasar dimaksud adalah dengan kapasitas mesin di bawah 1.000 CC dengan GVW sekitar 500 kg yang cocok untuk angkutan pedesaan, pertanian, perkebunan. 

Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim Ir Budi Setiawan MMT, ME kendaraan angkutan barang dengan kapasitas silinder 600 CC perlu dikembangkan untuk angkutan pedesaan, pertanian, perkebunan. Melalui angkutan barang jenis pikap maka program micro car ditargetkan menjadi salah satu model sarana angkutan dengan masa depan cukup baik karena dapat dijadikan sebagai penghela pengembangan klaster komponen otomotif. "Jatim juga ingin menggarap segmen pasar micro car. Pasar segmen ini berbeda dengan pasar pemain otomotif yang sudah mapan di dalam negeri," katanya.

Untuk mewujudkan rencana itu, Kementerian Perindustrian telah menunjuk PT INKA sebagai industri inti untuk memproduksi micro car atau prinsipal otomotif. Dan Pemprov Jatim melalui Disperindag Jatim bersama elemen terkait termasuk kalangan pendidikan hingga industri pendukung lokal yang melibatkan para pelaku IKM di berbagai daerah diminta untuk mendukung terealisasinya mobil ini.

"Jatim mendukung PT INKA untuk memproduksi mobil GEA yang produksinya berbasis IKM (Industri Kecil Menengah) dengan sejumlah pertimbangan. Jatim adalah salah satu provinsi yang memiliki SDM yang kompetitif dan sumber daya alam memlimpah. Potensi lain berupa produk unggulan yang dihasilkan oleh IKM. Produk IKM seperti logam spare part roda dua dan empat banyak dihasilkan oleh perajin dari Jatim," katanya.

Kepala Bidang Industri Alat Tranpsportasi, Elektronika dan Telematika Disperindag Jatim Saiful Jasan menambahkan sentra IKM logam Waru dan Pasuruan selama ini dikenal sebagai tempat memproduksi logam dan komponen otomotif. "Jadi seiring dengan kebijakan pemerintah yang pro rakyat salah satunya adalah program mobil murah dan ramah lingkungan, maka Jatim sudah mengambil peran lebih awal melalui pembentukan klaster komponen otomotif mobil murah," katanya.

Sampai dengan laporan ini dibuat, kata Saiful, working group sudah melakukan FGD (Fokus Group Discussion) sebanyak enam kali. MUlai pada 13 Juli 2010 bertempat di Hotel Cendana Surabaya dilaksanakan pembentukan working group klaster komponen otomotif mobil GEA. Workshop tersebut difasilitasi Disperindag Jatim dengan pengurus terdiri dari unsur dinas, PT INKA, LSM, Perguruan Tinggi dan anggota dari IKM ASPILOW (Asosiasi Pengusaha Industri Logam Waru) Sidoarjo serta IKM PASINDO Pasuruan.

Hasil dari workshop tersebut adalah terbentuknya working group klaster komponen otomotif pertama di Jatim. Disepakati bersama bahwa klaster komponen otomotif mobil GEA ini memiliki visi dan misi yang jelas. Visinya adalah Indonesia menjadi basis produksi industri optomotif dan komponen kelas dunia. Sedangkan misinya penguatan struktur industri otomotif melalui peningkatan kemampuan industri komponen dan infrastruktur teknologi.

Pemerintah kata Saiful juga memfasiitasi dan melakukan pendampingan untuk IKM komponen otomotif anggota klaster berupa pelatihan teknis dan manajemen, temu bisnis, pengembangan pasar melalui pameran. Dengan demikian program klaster industri otomotif dapat berjalan sesuai peran masing-masing stake holder. "Sisi lain IKM komponen otomotif dapat berperan sebagai supporting industri bagi inti mobil GEA INKA sehingga klaster industri otomotif berbasis IKM di Jatim dapat terwujud," kata Saiful yang didapuk menjadi Ketua Working Group Klaster Komponen Otomotif Mobil GEA.

Wakil Ketua Working Group Klaster Komponen Otomotif Mobil GEA M Pramudya (dari PT INKA) menambahkan sepanjang 2011 adalah momentum untuk menguasai segmen pasar otomotif pada 2014. Saat ini kebutuhan segmen kendaraan baru untuk usaha dengan harga di bawah Rp 70 juta per unit seperti Angguna Surabaya, Bajaj Jakarta, angkutan ritel sudah sangat mendesak.

"PT INKA sendiri pada 2011 sudah ada pesanan 200 unit untuk angkutan publik para transit Surabaya. Dan pada 2012 rencananya memproduksi 1.000 unit untuk mendukung program pemerintah angkutan umum murah dan angkutan publik para transit," kata M Pramudya.

Pramudya menyebut PT INKA sendiri menargetkan pada 2013-2014 mampu memproduksi 10.000 unit sebagai angkutan murah yang dioperasikan secara massal di pedesaan, pesisir pantai dan angkutan komersial untuk perkotaan.

Hemat BBM, Murah dan Ramah Lingkungan

Prototipe mobil GEA direncanakan bisa terealiasasi akhir 2011, dan diproduksi massal pada 2012. Jika ini terwujud, akan menjadi tonggak awal industri otomotif asli Indonesia akan lahir di Jatim. Karena didukung oleh industri komponen otomotif berbasis IKM dan industri unggulan di daerah, harga mobil GEA yang diproduksi PT INKA yang ditunjuk oleh Kementerian Perindustrian sebagai industri inti untuk memproduksi micro car akhirnya bisa ditekan. Kisarannya bisa mencapai Rp 60-70 juta per unit dengan kapasitas mesin 600 CC. "Mobil yang diproduksi PT INKA ini akan menjadi mobil hemat BBM, juga didesain ramah lingkungan dengan harga murah dan terjangkau seluruh lapisan masyarakat," kata Kepala Disperindag Jatim Ir Budi Setiawan MMT,ME.

Saat ini mobil-mobil jenis ini menjadi tren kendaraan di berbagai belahan dunia. Tak hanya Eropa, Amerika, kawasan Asia Tenggara juga mulai menunjukkan kebutuhan akan kendaraan yang hemat BBM dan murah. "Tuntutan ini didorong karena kenaikan harga minyak dunia, kepadatan lalulintas, kebutuhan mobilitas serta karena kenaikan income per kapita," katanya.

Budi menegaskan diproduksinya mobil GEA ini tak lepas dari 6 direktif Presiden SBY, salah satunya adalah penyediaan angkutan umum murah untuk pedesaan dan nelayan yang harus terwujud sebelum 2014. Untuk diketahui enam program murah sudah dicanangkan Presiden SBY pada rapat kerja pemerintah di Istana Bogor, 21-22 Februari 2011 lalu. Enam program itu adalah penyediaan rumah sangat murah, angkutan umum murah, air bersih untuk rakyat, listrik murah dan hemat, peningkatan kehidupan nelayan, dan peningkatan kehidupan masyarakat pinggiran kota. [tis]

No comments:

Post a Comment