Popular Posts

PERKASA - Mobnas yang gagal


Truk Perkasa sesuai namannya memang perkasa. Sayangnya karena tersandung persoalan, pabrik itu tak bisa memaksimalkan produksinya. Pabrik truk yang sebetulnya bukan melulu membuat truk itu merupakan industri hulu hingga hilir yang mampu membuat segala perkakas hingga mesin perang jika dikehendaki. Tapi ketika “dikandangkan” oleh BPPN, pabrik itu seperti mati enggan, hidup tak mau.

Ketika SH berkunjung ke lokasi pabrik di Desa Karang Mukti, Subang, Jawa Barat belum lama ini suasana layaknya sebuah industri tak terlihat. Tapi bukan berarti industri tersebut mati total. “Kami masih membuat truk dan bus berdasarkan pesanan. Dan itu semua permintaan dari negera-negara tetangga,” ujar Ben Sinivasan, Direktur Utama PT Wahana Perkasa Autojaya, anak perusahaan Group Texmaco.

Ditambahkan Ben, walau tidak banyak unit yang diekpor ke negara pemesan, namun prospeknya bagus. Sejak diluncurkan pertengahan tahun 1998, Perkasa belum banyak tampak di jalanan. Barulah TNI, Polri, serta sejumlah kecil perusahaan jasa transportasi yang sudah menggunakan. Apakah karena mutu truk tersebut diragukan sehingga populasinya kalah banyak dengan merek Jepang atau Eropa?

Menanggapi hal ini Ben tampak bersemangat bahwa Perkasa boleh diadu kualitasnya dan tak kalah dengan merek lain. Truk dengan kandungan lokal lebih dari 90 persen, menurut Ben, memiliki performa terbaik. Soalnya teknologi yang dipakai memakai lisensi dari pabrik pembuat truk ternama di dunia.Untuk mesin diesel, persneling, axle, Texmaco memperoleh lisensi dari Styer, Austria. Masih berkaitan dengan mesin, teknologi Cummings, Amerika Serikat (AS) juga diadopsi.

Selain itu, teknologi persneling Perkasa mengadopsi teknologi ZF dari Jerman di mana truk MAN sendiri telah menggunakannya. MAN adalah merek truk Eropa yang terkenal kehandalannya. Begitu juga dengan axle juga menggunakan teknologi Eston, AS. Sedangkan untuk bodi dan sasis, dipakai teknologi Leyland, Inggris. “Pendek kata, apa yang terbaik di dunia, ada pada Perkasa,” ujar Rippon Ruwi, General Manager PT Wahana Perkasa Autojaya.

Lagi-lagi pertanyaan yang muncul mengapa truk Perkasa belum juga menjadi tuan rumah di negeri sendiri yang punya pasar truk sekitar 10.000 unit/tahun ini? Mungkin karena kurang promosi, atau tak punya modal kerja lagi untuk menerobos pasar. Bisa juga karena pemerintah kurang menghargai produksi negeri sendiri. Dugaan yang mendekati kebenaran adalah karena perusahaan tersebut kini di-BPPN-kan, sehingga tak berkutik untuk unjuk gigi.

Padahal kemampuan yang dimiliki, menurut banyak pengamat, sungguh luar biasa. Pabrik tersebut mampu membuat alat pertanian, mobil murah, bahkan kendaraan militer (ranmil), kendaraan taktis (rantis), bahkan panser sekalipun.

“Membuat truk adalah keahlian kami,” tambah Rippon. Buktinya kemampuan dalam membuat mesin tekstil yang sangat mengutamakan tingkat presisi, menjadikan Grup Texmaco semakin lebih ringan dalam membuat mesin mobil. Pabrik yang dimiliki di Subang dan Kaliwungu, Jawa Tengah, memungkinkan untuk membuat berbagai pelat atau batangan logam dengan berbagai tingkat kekuatan dan bentuk.

Seruan agar mencintai produk atau produksi dalam negeri, tampaknya masih sebatas slogan. Hal ini bukan saja berkaitan dengan truk Perkasa keluaran Texmaco, tetapi juga di industri lain. Rippon sempat kesal dengan tim audit dari BBPT yang datang ke lokasi pabrik di Subang. Mereka bertanya sebelum melihat dan berkelililing pabrik sehingga pertanyaannya “aneh-aneh.” Melihat proses produksi Perkasa di Kaliwungu, Karawang, atau Subang, merupakan cara terbaik untuk bisa meyakini dan menaruh penghargaan lebih pada truk yang punya kandungan lokal tinggi ini.

SH sempat menjajal truk Perkasa di lokasi pabrik. Rasanya tak ada yang salah dalam truk ini tapi mengapa terpinggirkan di negeri sendiri?










Bus ini memang made in Indonesia, alias buatan negeri sendiri. PT Wahana Perkasa Auto Jaya ini memproduksi bus di tahun 2001, setelah memproduksi truk dengan nama sama, yakni Perkasa, di tahun 1999. Bus Perkasa memiliki tiga tipe mesin. Mesin depan dengan kode seri B07A, mesin belakang dengan kode seri B08B dan B08BI. Untuk kode seri B08BI, mesinnya telah dilengkapi turbo intercooler.

Tetapi langsung saja, SAYANG beribu SAYANG, keampuhan jurus PERKASA tidak se-PERKASA mereknya. PERKASA secara resmi tidak lagi eksis di dunia otomotif nasional akibat induk perusahaannya terbelit masalah finansial, yang akhirnya menyeret PERKASA ke ambang kehancuran. Jadinya, hanya segelintir unit saja bus-bus PERKASA yang berkeliaran di jalanan Indonesia. Mungkin banyak pecinta bus yang bertanya-tanya, sebenarnya PERKASA ini gimana sih??, apa mesinnya??. Saya banyak mendapat pertanyyan serupa dari teman-teman dan relasi tentang truk dan bus PERKASA.

OK, sebelum saya jelaskan lebih detail, mari kita lihat dulu varian PERKASA yang “sempat” dipasarkan:
> Bus Kecil:
B04, mesin Steyr WD412, 4.3L, 140ps, transmisi ZF5S-42, wheelbase: 3.430mm.

> Bus Besar:
B07B, mesin Steyr WD612A turbo, 6.5L, 195PS (DIN), transmisi ZF6S-85, WB: 6.1M,
B08A, mesin Steyr WD612A turbo, 6.5L, 195PS (DIN), transmisi ZF6S-85, WB: 5.8M,
B08B, mesin Steyr WD612A turbo, 6.5L, 195PS (DIN), transmisi ZF6S-85, WB: 6.1M,
B08Bi, mesin Steyr WD612B turbo, 6.5L, 220PS (DIN), transmisi ZF6S-85, WB: 6.1M,
B08BiS, mesin Steyr WD612C turbo, 6.5L, 240PS (DIN), transmisi ZF6S-90, WB: 6.1M.

MESIN
Sudah baca artikel Mercedes in Indonesia belum??, kalau belum, sebaiknya baca dulu biar lebih mudeng.. PERKASA menggunakan mesin dari STEYR, sebuah perusahaan otomotif yang sangat terkemuka di Eropa, tepatnya di negara Austria. STEYR juga merupakan pembuat MERCEDES G-Classe (jip seri G), mesin dan truk merek STEYR, dan kendaraan khusus militer. Sesuai standarnya, semua mesin STEYR menggunakan satuan tenaga DIN, bukan JIS seperti kendaraan Jepang. Mesin buatan STEYR juga sudah dikenal oleh dunia ber-daya tahan dan bertenaga tinggi, tak heran jika kemudian PERKASA memilih menggunakan mesin STEYR seri WD412/612 untuk dipasangkan pada seluruh line-up produknya. Detailnya WD612:
i6 OHV 12V-Turbocharger, 6.595cc, 108.0×120.0mm, 16.5:1 compression ratio.
A : Tenaga 195Ps (220Ps-JIS) pada 2.400rpm, Torsi 650Nm pada 1.300rpm
B : Tenaga 220Ps (250Ps-JIS) pada 2.400rpm, Torsi 720Nm pada 1.300rpm
C : Tenaga 240Ps (265Ps-JIS) pada 2.400rpm, Torsi 825Nm pada 1.300rpm
Wow, tenaga yang fantastic kan??, jangan dibandingin sama produk jepang, jauhh teman-teman.. Semua mesin STEYR ini sudah dilengkapi dengan turbocharger, bahkan intercooler pada seri-B/C yang siap mempercepat laju bus PERKASA. Karena sudah dilengkapi turbocharger, maka tak heran jika mesin WD612 ini sudah lolos standar emisi EURO-2 di Eropa sejak tahun 1997 (indonesia baru 2007!). Oya, PERKASA merakit mesin STEYR ini di Purwakarta lho, jadi boleh lah membanggakan diri sebagai salah satu dari 6 perakit mesin di Indonesia..

TRANSMISI
PERKASA mempercayakan urusan transmisi kepada ZF, sebuah supplier transmisi terkenal di dunia. Untuk mesin seri A dan B, PERKASA memilih ZF tipe ZF6S-680 yang mempunyai perbandingan gigi rapat untuk mempercepat akselerasi. Sedangkan yang seri-C 240Ps, PERKASA memilih ZF tipe ZF6S-90 yang lebih lembut dalam perpindahan giginya. Semua ini ditujukan untuk ketepatan dalam berkendara, standar eropa gitu loh.. Urusan transmisi boleh dibilang klop numero uno, pilihan terbaik!

CHASSIS
PERKASA membagi dua model lineup-nya, seri 07 bermesin depan, dan 08 bermesin belakang. Jarak sumbu roda yang ditawarkan-pun tidak main-main, 5.800mm dan 6.100mm (wah, saingannya Hino RG1JSKA nich). Boleh percaya atau tidak, chassis PERKASA adalah yang ter-PERKASA, bayangkan saja, jika merek lain side member-nya berkisar 220-230mm, PERKASA mempunyai ukuran 260mm!, gila enggak?? Ukuran chassisnya nyaris serupa dengan truk tronton!
Untuk gandar depan dan belakang, PERKASA memilih EATON, salah satu pembuat komponen truk dan bus terbesar di dunia. Untuk gandar depan, menggunakan EATON I-140 yang mempunyai beban angkut maksimal 7.725kg, sedangkan gandar belakang dipilih tipe 23145, yang berdaya angkut maksimal 10.5 ton, wuih…
sudah benar-benar PERKASA?, nanti dulu, urusan pemilihan rem juga ciamik punya! Menggunakan mekanisme pengereman full air brakes, S-cam, berdiameter 419mmx160mm untuk roda depan dan belakang. Ini jauh lebih besar dibanding yang terbesar saat ini, MB 410mm!
Dipadu dengan perangkat kemudi dari varian terlaris, ZF8063 yang telah dilengkapi integral power steering, membuat pengendalian semakin PERKASA.
Ssst, ternyata makin PERKASA saja, coba tengok ukuran roda yang 10.00-20-16PR!

DIMENSI
B07-B 11.675×2.400×6.100×1.956/1.800-280mm
B08-A 11.325×2.400×5.800×1.956/1.800-280mm
B08-B 11.675×2.400×6.100×1.956/1.800-280mm
(panjang x lebar x jarak subu roda x track depan/belakang – jarak tanah)
Wow, PERKASA dalam ukuran kan?, apa mungkin deket sama tempat praktik mak erot ya??, kok jadi melar panjang gitu?, hehehe…

RESULT
PERKASA, boleh jadi tidak PERKASA dari sisi perusahaan, tetapi harus diakui PERKASA dari sisi teknis produknya! Mungkin dari banyak pecinta bus, sudah ada yang mencoba naik atau membawa sendiri bus PERKASA ini? Ya, memang unitnya terbatas, jadi kalau belum pernah naik, simak saja pengalaman yang pernah saya rasakan. Oya, sebelumnya, tak banyak PO yang menggunakan PERKASA, di Jawa Timur nyaris tak ada, tapi di Jawa Tengah tempat saya kuliah dulu, kalau mau naik, cuma bisa PO. Purwo Widodo atau PO. Sumber Alam.

Tahun 2003-1n, pertama kali memasuki kabin, yang terasa adalah rasa lapang, selapang Hino RG. Saat bus berjalan dari Solo menuju Semarang, sangat terasa PERKASA ini setara bus MB-OH Series, lembut sekali bantingannya. Untuk urusan tanjakan, masih mampu dilibas dengan baik, bahkan beberapa bus MB juga di salip oleh PERKASA. Penasaran, saya tanya sopirnya, dan yang mengejutkan, katanya di tol cikampek, busnya bisa melaju setara Hino RG milik Pahala Kencana dan Kramat Djati!, book, kenceng juga ya… Karena jam kuliah mepet, saya hanya bisa merasakan kencangnya bus PERKASA ini di tol Semarang, nyaman, stabil dan MANTAP!

Sekali lagi, SAYANG, bus-bus PERKASA ini banyak yang tak berumur lama, keterbatasan suku cadang jadi penyebab utama habisnya bus PERKASA di jalanan Indonesia. Saat masih beroperasi banyak, mungkin dikanibal juga ok, tapi saat yang lain juga turut bermasalah, akhirnya diakal-akal (dimodif), yang tidak sesuai standard, yang berujung pada berhenti totalnya mesin STEYR. Sebenarnya, masih banyak cara untuk bus PERKASA masih tetap jalan. Dan bagi para pengusaha bus pariwisata, jangan ragu untuk membeli bangkai bus PERKASA, karena masih bisa digunakan baik..

Dan Boleh dibilang.. perkasa ini sebetulnya lebih handal daripada mesin lainnya pada saat itu..

Jejak Akhir kebanggaan yang diraih PERKASA,namun akhirnya gagal seiring bangkrutnya perusahaan tersebut


Wawancara Hutomo Mandala Putra : "Timor Itu seperti Anak SD"

SEJAK proyek Mobil Nasional (MOBNAS) Indonesia ditandatangani pada 1996, kontroversi terus merebak. Kritik pun tak kunjung berhenti, terutama dari luar negeri. Namun, pemerintah tetap mempertahankan proteksi untuk PT Timor Putra Nasional (TPN) yang ditunjuk menjadi pionir proyek itu. 

Begitu bersemangatnya pemerintah membela proyek mobil Timor sampai terkesan apa pun siap dipertaruhkan demi proyek itu. Perkembangan baru, ketika pemasaran Timor lesu belakangan ini, pemerintah pun menginstruksikan departemen-departemen untuk membeli sedan itu. Maka, muncul pertanyaan: mengapa pemerintah sangat ngotot memperjuangkan kepentingan PT TPN. Apakah karena perusahaan itu milik putra presiden atau karena ambisi untuk punya kendaraan nasional semata?

Bos PT TPN Hutomo Mandala Putra menyatakan, apa yang dilakukan pemerintah itu masih wajar. Berikut ini wawancara Reporter D&R Mohamad Subroto dengan putra keenam Presiden Soeharto itu perihal mobnas dan isu aktual lain.

Apa yang menyita perhatian Anda saat ini? Mobnas Timorkah?
Mobnas Timor memang menyita perhatian saya. Soalnya, pemerintih menargetkan tiga tahun untuk memenuhi kandungan lokal sebesar 60 persen. Itu bukan pekerjaan ringan, terutama yang berkaitan dengan pendanaan. Tapi, kami yakin bisa memenuhi target pemerintah. Soalnya, di dalam negeri sendiri sudah banyak industri komponen yang mandiri.
Berapa sebetulnya dana yang dibutuhkan Timor?
Dana untuk memenuhi target ini cukup besar. Sampai akhir tahun depan direncanakan US$ 1,3 miliar.
Selain dari konsorsium, dari mana Timor mendapat dana?
Target ini memang harus dibarengi dengan pencarian pinjaman dana yang lebih lunak, seperti jangka pengembalian yang lebih panjang. Timor juga akan masuk bursa, selambat-lambatnya akhir 1998. Pada waktu penawaran harga perdana perusahaan di bursa (initial public offering -- IPO), kami juga harus meyakinkan masyarakat bahwa investasi yang dilakukan membuat Timor bisa mencapai kandungan lokal di atas 60 persen. Tujuannya: kami bisa bersaing secara sehat dari bebas dengan industri otomotif lain di Indonesia dan di negara-negara ASEAN menjelang AFTA tahun 2003 . Kami telah mempersiapkan segalanya secara matang. Tinggal waktu saja yang menentukan.
Ada pembatalan pinjaman untuk Timor dari bank luar negeri sehubungan gugatan Jepang, Uni Eropa, dan Amerika ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Apakah itu tidak mengganggu?
Bank internasional dari Jepang dan Eropa semula memang akan memberi pinjaman dana. Tapi, mereka menjadwalkan kembali pinjaman tersebut karena persoalan WTO. Mereka khawatir Indonesia akan kalah di WTO. Kekalahan itu membuat program mobnas akan dihentikan. Padahal, sebetulnya, penyelesaian perkara di pengadilan, termasuk mobnas di WTO, akan butuh waktu lama. Sementara itu, fasilitas yarig diberikan untuk Timor terbatas waktunya. Pemerintah sendiri mencambuk kami agar bisa memenuhi target kanduagan lokal yang ditentukan, yaitu 20 persen pada tahun pertama, 40 persen pada tahun kedua, dan 60 persen pada tahun ketiga. Malah, Timor akan melompat dari target kandungan 20 persen langsung ke 60 persen.
Bagaimana Anda menanggapi gugatan negara maju ke WTO itu?
WTO tidak menjadi halangan bagi Timor sebagai perusahaan. Soalnya, kami hanya berkewajiban memenuhi peraturan dalam Inpres (No. 2 Tahun 1996) dan SK Menteri Perindustrian dan Perdagangan tentang perusahaan pionir yang berkewajiban memenuhi target kandungan lokal. Timor hanya terkait dengan WTO seputar isu apakah Timor bisa bertahan di pasar selarnanya atau hanya dalam jangka waktu tertentu. Dulu, ada program mobnas MR 90, tapi tidak bertahan lama.
Anda optimistis Timor bertahan di pasar?
Sementara ini orang memang masih menunggu dan melihat Timor. Dan, kami di Timor harus membuktikan bisa melaksanakan segalanya sesuai dengan komitmen. Soalnya, kandungan lokal itu bukan hanya kewajiban yang diberikan pemerintah ke Timor, tapi juga isi proposal yang diberikan Timor ke pemerintah.
Tapi, akibat gugatan WTO, bank di luar negeri batal memberi pinjaman?
Betul. Tapi, kami masih mungkin mendapatkannya setelah mengeluarkan jaminan kepada mereka. Kami lantas berpikir, kalau jaminan dari Timor itu bisa diberikan ke perbankan nasional, mengapa mesti ke bank internasional.
Selain upaya pemerintah, apa yang bisa dilakukan Timor sehubungan dengan WTO ?
Pemerintah sudah membentuk tim khusus. Nanti, tim itulah yang akan mencari alternatif negosiasi ke negara yang melakukan klaim atas kebijakan mobnas. Tapi, kalau mereka ingin adil, Indonesia sebagai negara berdaulat wajar saja melakukan proteksi terhadap industri otomotif dalam negerinya. Selama ini, proteksi seperti itu juga dilakukan negara maju. Amerika, Jepang, atau Korea melakukan hal yang sama pada awal pembangunan industri otomotifnya, beberapa puluh tahun silam. Lihat juga Proton Saga di Malaysia atau Maruti di India. Tidak ada yang mengajukan protes. Tuntutan di WTO itu sebetulnya tidak adil.
Tapi, negara-negara yang menuntut merasa dirugikan oleh kebijakan mobnas yang protektif.
Proteksi atau fasilitas yang diberikan ke Timor selama ini tidak absolut. Proteksi ke Timor tidak membuat produsen lain tidak boleh memasarkan produknya. Mereka masih memiliki kesempatan untuk memasarkan produknya. Produsen dari Jepang, Eropa, bahkan Amerika, masih bisa menjual produknya secara bebas di sini. Pemerintah Indonesia telah memberi proteksi selama 25 tahun kepada mereka. Tapi, mereka lambat sekali bersedia memenuhi kandungan lokal yang 60 persen itu. Lalu, kalau ada perusahaan bisa melakukan lokalisasi lebih dari 60 persen selama tiga tahun sekaligus memakai brand name atau nama Indonesia, mengapa lantas diributkan? Seharusnya justru didukung oleh masyarakat atau bangsa Indonesia.
Jadi, bagi Anda, tuntutan tadi semata perkara persaingan bisnis?
Soalnya, ada kepentingan ekonomi atau motif dagang. Mereka hanya menginginkan Indonesia selama menjadi importir otomotif. Dengan begitu, Indonesia menjadi pasaran paling empuk bagi negara maju, apalagi nanti ada perdagangan bebas APEC pada tahun 2010 untuk negara berkembang dan tahun 2020 untuk negara maju. Saat itu, Indonesia pasti tidak akan bisa memproduksi industri otomotif. sendiri. Soalnya, yang akan dihadapi langsung adalah produsen kaliber kelas dunia dengan tingkat keterampilan ekonomi yang sangat baik. Ditambah lagi kebijakan proteksi saat itu yang sudah tidak bisa dilakukan lagi. Akibatnya, industri otomotif Indonesia akan mati. Devisa yang akan dihamburkan untuk membeli kendaraan akan lebih besar lagi. Dampak industri otomotif pada penerimaan negara memang besar. Lihat saja pertikaian perdagangan otomotif antara Jepang dan Amerika, beberapa tahun lalu. Orang tidak banyak melihat kepentingan yang jauh ke depan seperti ini. Jangan dilihat satu atau dua tahun ini, tapi 10 atau 20 tahun ke depan. Tidak memiliki industri otomotif sendiri dampaknya akan fatal bagi Indonesia dan baru akan terasa pada kemudian hari.
Berarti proteksi sah-sah saja?
Proteksi berlaku di mana-mana di dunia ini. Apakah Amerika tidak memproteksi industri tekstilnya? Anggap saja Amerika bisa menyerap pasar tekstil sebesar satu juta. Tapi, kapasitas produksi mereka hanya 800 ribu. Mereka hanya perlu impor 200 ribu dan jumlah itulah yang akan dibagi-bagi ke negara-negara importir. Cara itu supaya dianggap adil, padahal sebetulnya proteksi.
Selain itu, Anda menganggap gugatan panel Jepang dan Uni Eropa ke WTO merugikan Timor?
Pasti merugikan. Seharusnya, Timor mendapat citra yang baik, yaitu mampu memenuhi kandungan lokal 60 persen dalam waktu singkat. Persoalannya, apakah yang menggugat itu mau mengubah isi prinsipiil agar, misalnya, Astra atau Indomobil bisa memenuhi kandungan lokal 60 persen dan mendapat perlakuan sama dengan Timor? Mereka lebih senang mengganggu Timor dengan berusaha membatalkan fasilitas atau kemudahan yang didapat Timor. Timor itu seperti anak sekolah dasar. Jadi, jangan memberikan ujian dengan soal seperti yang dikasih kepada mahasiswa. Tidak bisa seperti itu. Tingkat kemampuannya berbeda.
Adanya gugatan WTO membuat semua potensi diarahkan untuk menyukseskan program mobnas. Apakah itu justru bukan suatu keuntungan bagi Timor?
Saya rasa tidak betul kalau ada anggapan semuanya diarahkan untuk Timor. Dasar hubungan yang dijalin oleh Timor dengan pihak terkait saling menguntungkan atau bisnis semata.
Bukankah konsorsium perbankan nasional juga terbentuk setelah adanya sengketa di WTO?
Saya rasa itu hanya sebagai salah satu solusi untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Konsorsium terbentuk karena berkaitan dengan legal lending limit dari Bank Indonesia. Soalnya, dana yang dibutuhkan Timor cukup besar. Karena itu, bentuknya konsorsium. Tidak ada ketakutan perbankan bahwa proyek Timor yang akan diberi pinjaman memiliki risiko tinggi sehingga pinjaman harus dibagi-bagi dan dibentuk konsorsium.
Ada kabar Bank Bumi Daya (BBD) tidak lagi ikut konsorsium. Alasannya karena kelayakan proyek Anda sendiri.
Itu cuma berkaitan dengan legal lending limit. BBD punya dana, tapi tidak bisa bergabung dalam konsorsium karena peraturan Bank Indonesia tadi. Soalnya, mereka sudah sempat membiayai Timor selama ini. Impor Timor completely build up dari Korea memakai dana dari BBD. Bila mereka memberi pinjaman dana lagi, akan melanggar peraturan Bank Indonesia.
Direktur Utama Bank Central Asia (BCA) Abdullah Ali sempat mengatakan BCA belum memutuskan akan ikut dalam konsorsium.
Siapa yang bilang? Dia sendiri yang datang sewaktu Timor mengadakan presentasi. Ia mengatakan hal itu mungkin karena tidak mau menjelaskan secara panjang-lebar saja.
Jadi, Anda sudah meyakinkan kalangan perbankan yang terlibat konsorsium dengan menyodorkan hasil studi kelayakan proyek?
Kami sendiri sudah membuat studi kelayakan dan sudah disampaikan ke bank-bank yang terlibat konsorsium. Studi kelayakan itu nanti juga akan diperlukan untuk meyakinkan investor dalam IPO, agar mereka yakin saham Timor yang dibeli memiliki prospek baik. Saya rasa para bankir sendiri akan tahu suatu proyek layak atau tidak untuk diberi pinjaman. Mereka tidak akan sembarangan.
Tapi, angka penjualan Timor yang belum tinggi bisa menjadi pertimbangan tersendiri bagi mereka, kan?
Kami sudah menjelaskan kepada mereka bahwa bukan hanya Timor yang mengalami penurunan angka penjualan. Dalam suasana pemilu dan menjelang Sidang Umum MPR seperti sekarang, semua produsen otomotif mengalami hal serupa. Toyota Kijang yang sudah lebih dulu eksis di pasar saja sempat mengalami penurunan angka penjualan.
Sebetulnya, apakah konsorsium masih meragukan proyek mobnas Anda dan takut pinjaman yang diberikan akan menjadi kredit macet?
Orang khawatir, sih, boleh-boleh saja. Bila sampai terjadi kredit macet, tentu proyek ini tidak layak. Kalau sampai tidak layak, tentu saya sejak awal tidak bersedia menangani proyek ini. Dan, kalau, memang sampai terjadi kredit macet, saya sendiri yang bertanggung jawab. Saya sendiri yang akan menjadi jaminan, baik sebagai pimpinan tertinggi di Timor atau sebagai pemegang saham di PT TPN. Yang jelas dan pasti: saya jamin pinjaman untuk Timor akan dikembalikan sesuai jadwal dan tidak akan menjadi kredit macet. Jaminan pengembalian seperti itu jelas sudah menjadi risiko dalam bisnis. Nanti, toh, Timor bukan semata milik Hutomo M.P. melainkan juga milik masyarakat, setelah masuk bursa.
Apakah pihak Anda akan meminta dana murah?
Kami tidak meminta dana murah atau Kredit Likuidasi Bank Indonesia (KLBI) dari pemerintah. Tapi, kalau dapat, ya, kami bersyukur. Namun, terus terang, kami tidak menginginkan dana murah karena bisa menjadi isu politik lagi. Kami tidak menginginkan hal seperti itu. Saya akan mendapatkan dana murah justru dari masyarakat setelah nanti masuk bursa.
Di dalam negeri, apakah proteksi untuk PT TPN yang membuat orang menjadi apriori?
Saya rasa tidak beralasan juga kalau penunjukan itu menimbulkan apriori pada masyarakat. Kami memang belum bisa memenuhi target penjualan, tapi sudah menguasai sekitar 50 persen dari total pemasaran sedan. Itu dicapai cuma dalam waktu enam bulan. Saya mengucapkan terima kasih sekali kepada para pembeli Timor. Dan, kami tidak akan mengecewakan konsumen karena produk Timor bisa dibuktikan keandalannya. Kami mengambil produk dari KIA karena, selain andal, mereka juga mau memberikan transfer teknologinya.
Terkesan Timor tiba-tiba saja ditunjuk sebagai perusahaan pionir.
Timor memang pemain baru dalam industri otomotif di Indonesia, bahkan di dunia. Karena itu, kami membutuhkan tahapan-tahapan. Bukan hanya dalam pembangunan pabrik, melainkan juga dalam memperkenalkan produk ini kepada masyarakat. Dalam tahap awal, kami memang meminta agar Timor tidak dibuat di Indonesia, tapi di Korea. Dari situ, kami memperkenalkan kepada masyarakat bahwa Timor merupakan produk bermutu baik. Soalnya, diadopsi dari produk yang sudah terbukti keunggulannya di pasar. Setelah itu baru kami mengembangkan produk itu dengan cara memproduksi dan melakukan rancang-bangun sendiri.
Tapi, penunjukan PT TPN yang pemain baru sebagai perusahaan pionir tetap menimbulkan keraguan, bahkan prasangka.
Kalau tidak diberikan kepada pemain baru, justru akan mematikan perusahaan otomotif yang lain. Itu pasti akan terjadi seandainya satu perusahaan lama, seperti Astra, yang ditunjuk sebagai pelaksana program mobnas dan mendapat fasilitas seperti Timor. Penunjukan Astra akan membuat Indomobil atau perusahaan otomotif yang lain langsung mati seketika. Astra sudah memiliki jaringan penjualan plus lokalisasi sudah 40 persen. Mereka tidak sulit meningkatkan kandungan lokal, menurunkan harga, lalu menguasai pasar. Penunjukan Timor tidak akan mematikan perusahaan otomotif lain. Mereka masih memiliki kesempatan untuk mengejar kandungan lokal sampai 60 persen. Tapi, kalau mereka tidak mau mengejar kandungan lokal sampai 60 persen, mereka nanti akan berat bersaing dengan Timor. Maka, kemudian, Bimantara meninggikan kandungan lokal sekaligus menurunkan harga. Itu semua untuk mendekati harga Timor. Selain dengan cara itu, mereka akan kehilangan pasar. Ini satu segi kewajaran dari penunjukan pemain baru oleh pemerintah. Bagi Timor sebagai pemain baru, semuanya perlu waktu: memperkenalkan produk, membangun pabrik, membangun jaringan pemasaran.
Tapi, penunjukan PT TPN sebagai pionir program mobnas tetap menimbulkan kerugian bagi perusahaan otomotif lain.
Merugikan, ya, pasti merugikan. Tapi, yang penting, tidak sampai mematikan. Soalnya, nama Timor belum dikenal masyarakat. Bandingkan dengan Mazda, Toyota, Suzuki, Ford, atau yang lain. Tambahan lagi: Timor sebagai industri otomotif, begitu lahir, langsung mendapat citra kurang baik. Tapi, memang yang selalu diekspos oleh pesaing di dalam bisnis, ya, segi kekurangan. Dulu, agen tunggal pemegang merek (TPM) memang sempat meributkan Timor. Tapi, sekarang, mereka malah mau bekerja sama.
Orang juga selalu mengaitkan posisi Anda sebagai putra presiden dalam penunjukan PT TPN sebagai perusahaan pionir.
Saya pikir tidak seperti itu. Sekali lagi, sebagai pemain baru, kami membutuhkan proteksi. Sementara itu, ATPM lain cuma perlu kandungan lokal 20 persen lagi untuk mendapatkan proteksi atau fasilitas yang sama. Selain itu, apa yang saya jual atau usulkan ke pemerintah merupakan sesuatu yang wajar. Tujuannya: bangsa Indonesia mandiri dalam industri otomotif dan rekayasa serta rancang bangunnya. Sangat disayangkan kalau kita yang sudah bisa memproduksi kapal laut dan pesawat terbang belum bisa memproduksi mobil sendiri.
Lalu, mengapa mobil Timor yang diimpor utuh dari Korea sudah dikategorikan sebagai mobil nasional?
Kami membutuhkan mobil itu (impor build up) untuk membangun jaringan pemasaran dan pengenalan produk. Bagaimana bisa membangun jaringan pemasaran jika tidak ada produk yang bisa dijual? Maka, dalam proposal, kami juga meminta kepada pemerintah agar mobil nasional diproduksi dulu di Korea sampai 45 ribu unit. Dengan cara itu, kami sudah siap dengan jaringan pemasaran saat pabrik di Cikampek mulai berproduksi pada Juni 1998 atau paling telat September 1998. Kalau saat itu baru dibangun jaringan pemasaran, waktu yang dibutuhkan semakin lama. Kami memang menempuh jalan sesingkat mungkin. Dan, persaingan Timor dengan industri otomotif lain memang baru tahun 1999.
Rupanya, jaringan pemasaran dan pengenalan kepada masyarakat belum mulus. Bukankah belum tercapainya target penjualan sebagai bukti apriori dari masyarakat?
Orang ingin membuktikan secara langsung. Memang perlu waktu dan tidak mungkin posisi Timor bisa sama dengan yang lebih dulu, hanya dalam enam bulan. Kami terus melakukan penjelasan. Bahkan, memberi kesempatan uji kendaraan (test drive) kepada masyarakat. Itu agar mereka yakin bahwa hal jelek yang didengar tentang Timor, seperti Timor itu mobil kaleng, terbantah.
Tapi, tampaknya ada kesalahan penetapan target?
Persaingan bisnis yang betul-betul kompetitif untuk Timor baru pada tahun 1999. Saat ini, kami hanya lebih melakukan penetrasi pasar. Angka penjualan Timor sendiri menunjukkan kenaikan. Sementara itu, PT Timor Distributor Nasional akan terus meyakinkan bahwa Timor adalah mobil murah dengan kualitas tinggi seperti mobil mahal lainnya. Nantinya, Timor juga akan dijual ke pasar internasional sehingga harus berstandar internasional.
Bukankah tingkat penjualan yang tinggi akan semakin sulit tercapai dalam suasana pemilu dan menjelang Sidang Umum MPR?
Itu memang sangat berpengaruh bagi industri otomotif, termasuk Timor. Semua jenis kendaraan bermotor mengalami penurunan penjualan. Tapi, sekarang sudah mulai membaik lagi. Dan, Timor masih di depan dalam penjualan sedan.
Apa, sih, kiat agar penjualan Timor naik?
Bukan kiat lagi namanya kalau saya memberitahukan, ha-haha....
Kabarnya, stok 30 ribu mobil Timor dari Korea itu akan diekspor.
Mobil-mobil itu tidak akan diekspor. Ini perlu ditegaskan. Jadi, tetap akan dipasarkan di sini karena stoknya tinggal enam ribu unit pada akhir tahun ini. Bukan 30 ribu seperti yang dibilang orang. Yang akan diekspor nantinya adalah Timor yang diproduksi sendiri di dalam negeri.
Bagaimanapun, Timor terus disorot di dalam negeri....
Silakan saja orang bertanya. Itu hak mereka. Yang penting adalah tujuan akhir Timor, yaitu menguasai teknologi industri otomotif. Termasuk menguasai rekayasa rancang-bangun.
Bukankah kebijakan mobnas dan proteksi tadi lebih berunsur politik ketimbang ekonomi?
Kalau orang mau mengait-ngaitkan seperti itu, ya, bisa saja. Sah-sah saja ada yang beranggapan seperti itu. Tapi, yang lebih penting sebetulnya adalah kemandirian bangsa Indonesia dalam industri otomotif.
Bagaimana Timor akan mencapai kandungan lokal 60 persen, sementara rencananya hanya mengandalkan produksi in house nanti di pabrik Cikampek dan tanpa meneruskan kerja sama dengan penjual (vendor) karena mutu komponen dianggap tidak seratus persen?
Anda mendengar itu dari mana? Sebaiknya, tanyakan langsung ke saya. Industri otomotif di mana pun memang tidak akan memproduksi komponennya secara in house. Paling banyak sekitar 50 persen. Sisanya melalui vendor development atau out house. Timor sendiri akan melakukan hal itu. Dari 65 persen, 20 sampai 25 persen komponen diproduksi out house. Jadi, sampai kapan pun Timor akan tetap bekerja sama dengan penjual di sini.
Mengapa Timor baru berencana menurunkan harga lima tahun lagi, sementara Bimantara Cakra dan Nenggala sudah melakukannya?
Kita lihat saja nanti. Timor sendiri tidak memiliki rencana menurunkan harga. Cakra dan Nenggala menurunkan harga karena sudah menaikkan lokalisasi. Tahun depan juga bisa diturunkan lagi kalau lokalisasi bertambah. Nanti, tingkat harga akan betul-betul sama dengan Timor. Mereka juga sebetulnya pemain lama. Mengapa tidak dari dulu saja? Timor pasti mikir-mikir untuk terjun dalam industri otomotif dan merencanakan lokalisasi 60 persen dalam waktu tiga tahun.
Apakah ada rencana menyatukan pengembangan Timor dengan Lamborghini?
Saya tidak akan menggabungkannya secara langsung. Mungkin dalam hal penelitian dan pengembangan (litbang) saja. Orang-orang yang berpengalaman dalam litbang Lamborghini akan ditarik membantu Timor. Institusi di Eropa nantinya juga akan diminta bekerja sama untuk mengembangkan produk-produk Timor.
Mengapa tidak meneruskan bekerja sama dengan Setiawan Djodi dalam Lamborghini? Apakah dianggap tidak menguntungkan?
Tidak seperti itu. Ini pertimbangan bisnis semata. Dia tidak ingin menanamkan modalnya di Lamborghini. Itu sebabnya dia keluar dari proyek Lamborghini. Lamborghini sendiri nanti akan masuk bursa di Eropa atau Amerika. Rencananya tahun depan. Produksi Lamborghini sendiri hanya seratusan unit per tahun. Tahun lalu hanya 250 unit. Tapi, harganya memang mahal dan itu yang membedakan Lamborghini dan industri otomotif yang memiliki produk massal seperti Timor.
Jadi, lebih baik memfokuskan diri pada Timor karena akan lebih menguntungkan?
Dari segi komersial, ya. Semua produk massal di manapun secara komersial memiliki masa depan yang baik. Keuntungan komersial itu sebagian akan disisihkan untuk riset dan pengembangan. Tapi, Lamborghini tetap menjadi brand hame yang eksis pada tahun 1990-an. Kami mengambil alih manajemen mereka, lalu memperbaiki untuk meningkatkan keuntungan yang seharusnya bisa dicapai.
Soal lain. Bagaimana Anda menanggapi sorotan terhadap bisnis putra-putri presiden?
Memikirkan hal itu cuma membuang-buang waktu. Soalnya, itu hanya muncul dari orang yang sirik atau berpikiran negatif. Daripada memikirkan hal itu terus-menerus lebih baik tetap melakukan hal yang positif, membangun bangsa. Apalagi, yang kami lakukan selama ini tidak merugikan negara. Kami ikut membangun bukan dengan cara merampok atau mengorupsi uang negara. Tapi, kami melakukannya lewat cara yang wajar saja, seperti masyarakat lainnya. Kalaupun ada kemudahan, mungkin kemudahan bertemu dengan pejabat yang bersangkutan. Tapi, bukan berarti kami meminta dana dari mereka tanpa mengembalikan.
Jadi, sorotan itu semata-mata persoalan sirik?
Iya, kan? Saya, sih, melihatnya dari yang gampang saja. Ringan-ringan saja menanggapi soal itu, ha-ha-ha....
Apakah tidak terkait dengan isu pribumi dan nonpribumi?
Sekarang, kami tanya kembali kepada orang yang mempersoalkan: apakah mereka lebih senang melihat kemajuan pengusaha pribumi meski dekat dengan keluarga presiden atau pengusaha nonpribumi yang suatu saat akan melakukan kontrol segala-galanya, termasuk ekonomi, politik, dan budaya. Apakah hal terakhir itu yang mereka inginkan? Mengapa lantas terus meributkan pengusaha pribumi yang dekat dengan keluarga presiden? Kalau bukan kami yang maju, siapa lagi? Pengusaha pribumi lain memang mengalami kemajuan, tapi apakah bisa secepat itu majunya? Silakan pikir dari segi kemandirian dan kemajuan bangsa. Bila pribumi maju lantas diributkan, mengapa nonpribumi maju justru didiamkan?
Tapi, pengusaha pribumi yang maju lebih cepat memang putra-putri presiden....
Pengusaha pribumi lain juga banyak di Indonesia. Tapi, perkembangannya memang tidak cepat. Meski begitu, ada juga yang sukses, seperti Bakrie atau Bukaka. Padahal, bangsa ini masih membutuhkan pengusaha pribumi sukses lebih banyak lagi. Mana pengusaha pribumi yang lain? Sementara ini, yang lain itu kebetulan saja berasal dari keluarga presiden sendiri. Mengapa Bakrie sukses tidak diributkan? Atau, kenapa Grup Modern dan Salim sukses juga didiamkan saja? Yang penting sebetulnya memberikan kontribusi besar kepada bangsa. Contohnya, pembangunan pabrik Timor akan menciptakan ribuan lapangan kerja. Ekspor Timor nanti akan mendatangkan devisa. Begitu juga dengan pajak yang akan dibayar oleh Timor ke negara. Memberikan devisa ke negara berarti juga memberikan pemasukan kepada rakyat.
Anda juga melihat sorotan itu bermuatan politik?
Dari segi politik, orang memang akan selalu mengait-ngaitkan dan mencari-cari kesalahan. Tapi, bila dari segi bisnis semata, tentu orang sulit mengkritik. Atau, kritik pasti tidak akan terlalu banyak. Kami sebagai putra-putri presiden tentu memiliki kaitan politis. Soalnya, presiden sebagai mandataris MPR, sebagai birokrat. Posisi itu membuat orang mencari-cari kelemahan birokrat itu sendiri (presiden) atau keluarga-keluarganya. Pokoknya, orang selalu melihat apakah ada yang bisa dijelek-jelekkan. Tujuannya. masyarakat ikut melihat dari segi negatifnya, bukan dari segi baiknya. Dengan demikian, tidak akan memperoleh simpati dari masyarakat. Hal itu selalu begitu, sekalipun yang dilakukan birokrat (presiden) atau keluaranya sudah baik bagi bangsanya.
Bukankah dengan menjadi putra-putri presiden akan lebih mudah memetik keuntungan dari kebijakan atau konsesi pemerintah?
Kalau orang mau mengait-ngaitkan hal itu, sekali lagi, ya, bisa saja. Tapi, yang lebih penting apakah yang dilakukan putra-putri presiden lebih merugikan atau menguntungkan masyarakat. Program mobnas misalnya. Masyarakat diuntungkan karena harga mobil bisa lebih murah meski belum semurah yang diharapkan.
Masak, posisi sebagai putra presiden tidak mempermudah bisnis yang dilakukan?
Terus terang, saya tidak bisa membuktikan. Soalnya, sejak awal terjun ke bisnis, saya sudah sebagai putra presiden. Bagaimana saya bisa membandingkan apakah posisi tersebut membuat lebih gampang atau tidak?
Paling tidak, proposal yang Anda ajukan membuat rekanan bisnis lebih menaruh respek atau malah takut...
Itu sebetulnya lebih terkait dengan kepribadian yang bersangkutan, bagaimana cara dia menanggapi suatu proposal. Bila memang dapat dipercaya, pasti akan menimbulkan respek. Jadi, persoalannya bukan siapanya, melainkan bagaimana dia melakukan sesuatu.
Posisi itu setidaknya akan membuat orang lain yang mengajukan dan memutuskan pemenang tender suatu proyek menjadi ngeri juga.
Kami mengajukan tender juga biasa saja. Kami mengikuti tender secara terbuka dan adil. Pemerintah sendiri setiap kali juga membuka tender secara terbuka. Bagaimana kami bisa "bermain" didalam suasana seperti itu? Kami sendiri sering kalah dalam tender sebuah proyek. Tapi, sekali lagi, bila kalah, tidak pernah diekspos. Bila menang, diekspos. Lalu, dikatakan: dia lagi, dia lagi.
Anda pernah kalah dalam tender apa saja?
Kami pernah kalah dalam tender di Departemen Penerangan. Waktu itu, proyeknya tukar tanah (ruitslag) di daerah Pecenongan, yang saat ini sudah menjadi pertokoan. Pernah juga kalah tender di Departemen Luar Negeri untuk proyek pembangunan kantor Departemen Luar Negeri di Pejambon. Begitu juga dengan beberapa proyek di Pertamina. Kami kalah karena ada yang bisa menawarkan proposal lebih baik. Tidak ada istilah "selalu berusaha untuk menang".
Tapi, tetap lebih banyak menang tender daripada kalahnya?
Kami tidak pernah membandingkan. Tapi, di antara kalah tender masih ada tender yang dimenangkan. Karenanya, masih tetap bisa survive dan bisa mengembangkan proyek baru. Tender-tender seperti itu sifatnya sementara. Karena itu, Humpuss mengembangkan industri petrokimia dan industri metanol di Bontang, Kalimantan, yang akan mulai berproduksi pada September nanti.
Sorotan itu sama sekali bukan persoalan bagi Anda?
Sekali lagi, selama kami tidak merampok uang negara atau merugikan negara, kenapa harus kami pikirkan atau takutkan. Bila kami dianggap merugikan uang negara, silakan buktikan. Apa dasarnya, apa buktinya menuduh seperti itu?
Bagaimana prospek bisnis Anda bila Pak Harto pensiun nanti?
Pengaruhnya tentu ada. Tapi, karena sudah dikelola secara profesional dan baik, pengaruh itu pasti akan sedikit sekali. Kami sudah memiliki industri sendiri. Bukan hanya usaha dagang. Kami selama ini memproduksi dari pabrik sendiri. Mengapa hal itu mesti dikhawatirkan? Tidak ada yang perlu dikhawatirkan bila Pak Harto pensiun. Semua sudah direncanakan secara matang.
Apakah putra-putri presiden sempat meminta agar Pak Harto tidak lagi meneruskan kepemimpinan nasional?
Saya pernah memberi pernyataan lima tahun lalu. Akhirnya, ibu saya sudah dipanggil Tuhan sebelum bapak (Pak Harto) pensiun. Beliau tidak bisa bebas menikmati hari tuanya secara bersama-sama. Kami mengharapkan agar regenerasi bisa dilaksanakan. Semoga pada tahun 1998 bisa dilaksanakan dengan lebih baik. Tujuannya: untuk keselamatan bangsa dan negara Indonesia sendiri. Jangan sampai menunggu terulang kejadian seperti ibu (pada Pak Harto). Bila hal itu terjadi, akan membahayakan bangsa Indonesia.
Apakah tidak secara eksplisit meminta Pak Harto untuk mundur sebagai presiden karena pertimbangan usia?
Sejak lima tahun lalu, saya meminta Pak Harto mundur, meminta agar bapak saya pensiun. Tapi, mungkin, lima tahun lalu masih diperlukan karena Presiden Republik Indonesia saat itu masih menjabat sebagai Ketua Gerakan Nonblok. Yang dilihat waktu itu Pak Hartonya, bukan presiden-nya. Bila saat itu pensiun, kok, kepercayaan besar dari negara berkembang di seluruh dunia itu terkesan disepelekan. Itu salah satu yang menjadi tolok ukurnya. Tapi, bila diminta terus oleh masyarakat, akhirnya akan menjadi presiden seumur hidup. Sekali lagi, seperti pernah saya sampaikan, hal itu tidak baik bagi kesinambungan bangsa ini. Bila terjadi sesuatu pada bapak, sebagai batasan kemampuan manusia meski sebetulnya kita tidak menginginkan, justru malah berbahaya bagi bangsa ini.
Lima tahun lalu, Anda pernah menyampaikan agar Pak Harto mundur. Bagaimana dengan sekarang?
Saya pikir sama saja. Saat ini malah waktu yang baik dan tepat. Tahun ini adalah 50 tahun pernikahan, tapi tidak bisa dirayakan bersama karena ibu sudah mendahului kita. Itu yang membuat kita merasa kehilangan. Kami hanya bisa mendoakan (Ibu Tien) agar dilapangkan jalannya. Sebetulnya, tidak semua keinginan manusia bisa dipenuhi. Tapi, yang lebih penting adalah kesinambungan pembangunan bangsa Indonesia menghadapi Pembangunan Jangka Panjang II yang akan berakhir tahun 2018. Dan, jelas, tidak mungkin mengharapkan bapak terus memimpin sampai tahun 2018. Manusia, bagaimanapun, memiliki keterbatasan. Karena itu, keterbatasan sebagai manusia harus dipertimbangkan semua pihak. Minimal menjadi pertimbangan bagi Golkar yang akan mengontrol mayoritas kursi atau suara di MPR. Tentu, dalam musyawarah, itu harus dituangkan, dibahas, diputuskan yang terbaik bagi kesinambungan bangsa dan negara ini.
Apakah keinginan Anda tadi akan disampaikan juga? Maksudnya, sebagai anggota Golkar ke pimpinan tertinggi Golkar?
Tergantung momentum dan event-nya. Saya rasa yaug paling tepat nanti di Sidang Umum MPR, dalam sebuah rapat yang membahas calon presiden dan wakil presiden. Membahas wakil presiden sekarang juga tidak etis karena posisi itu sangat terkait dengan presidennya: siapa dulu presidennya. Bila sudah ditentukan wakil presiden tapi presiden sendiri tidak menginginkan orang tersebut, tetap tidak akan bisa berjalan.
Mbak Tutut sering disebut-sebut sebagai calon wakil presiden....
Sekadar disebut, sih, boleh-boleh saja. Itu menjadi hak setiap orang untuk menyebut calon wakil presiden. UUD 1945 kan menjamin kebebasan bersuara, berserikat, dan berkumpul.
Omong-omong, apa yang membuat Anda suka kepada istri Anda?
Tidak usahlah yang begitu dikasih tahu. Itu urusan pribadi, haha-ha....
Selain cantik, apa yang membuat Anda suka?
Takdir, saya rasa, ha-ha-ha.... Sudah takdir dari yang di atas sana, ha-ha-ha....
Kapan kenal pertama kali?
Wah, itu, sih, enggak boleh tahu, deh, ha-ha-ha....
Kalaupun takdir, kan punya tahapan juga?
Belum tentu punya tahapan. Lihat saja orang dulu. Mungkin belum pernah bertemu, tapi sudah dijodohkan. Hidupnya bisa langgeng.
Setelah pernikahan, ke mana pergi berbulan madu?
Belum. Kita belum pergi berbulan madu. Tidak perlu berbulan madu, ha-ha-ha.... Ada atau tidak ada bulan madu, ya, sama saja.
Apa maksudnya sama saja?
Ketemunya di ranjang juga, kan, ha-ha-ha....
Apa perubahan yang Anda rasakan setelah perkawinan?
Perubahan-perubahan pasti ada dan terasa. Kami memiliki teman hidup di rumah, teman untuk berbicara, dan sebagainya. Mungkin, karena saya sudah lama terbiasa hidup sendiri, kini merasakan perlu ada penyesuaian-penyesuaian.
Penyesuaian apa saja?
Sekarang sudah tidak bisa bebas lagi. Kalau dulu, mau pergi ke mana-mana bebas. Sekarang tidak bisa seperti itu lagi. Harus ada yang dilapori atau diberitahu dulu, baru pergi. Sekarang ada yang mengeluh kalau tidak melapor.
Apa istri Anda akan dilibatkan dalam bisnis juga?
Kalau langsung dilibatkan, pasti tidak. Kalau jangka panjang, saya juga belum tahu. Nanti dilihat dulu perkembangannya. Bagi perempuan, yang penting terutama mengurus rumah lebih dulu dan keturunan kalau memang dikaruniai. Kalau semua sudah mapan dan masih ada waktu, baru mulai mengurus yang lain. Bisa kegiatan sosial atau usaha-usaha lain untuk memanfaatkan waktu yang ada.
Istri Anda sendiri berminat bisnis?
Semua memang bergantung pada istri saya sendiri. Tapi, kelihatannya, dia tidak berminat pada bisnis. Mungkin yang lebih kena bagi dia adalah mengikuti kegiatan-kegiatan sosial.
Omong-omong, nama Anda selalu dikaitkan dengan artis-artis cantik....
Namanya juga orang. Mereka mungkin ingin sensasi, ha-ha-ha....
Gunjingan itu ada dasarnya atau tidak?
Keberadaan saya kan sebagai figur publik. Jadi, kalau ada orang yang melihat saya bersama wanita, mereka langsung berpikir kami sedang berpacaran. Lantas, dia disebut-sebut sebagai pacar saya yang baru. Padahal, mungkin saya baru bertemu satu kali. Atau, bahkan hanya satu kali, pertemuan itu terjadi. Saya tidak pernah bertemu satu kali pun bisa digunjingkan berpacaran dengan orang itu. Jadi, buat apa mesti saya pusing-pusing memikirkan gosip-gosip murahan seperti itu. Biarin saja. Toh, nanti orang akan tahu yang sebenarnya.
Apakah Anda mengenal dekat Tamara Blezinsky seperti yang pernah diisukan?
Tanyakan sendiri kepada orangnya, ha-ha ha ..

*)Majalah D&R, 14 Juni 1997

Orang Kaya Suka Berbohong dan Melanggar Hukum

Selama ini, menurut anggapan umum, orang kaya lebih dihargai di masyarakat dan selalu menjadi anggota kehormatan di komunitas sosialnya. Ternyata, perspektif itu pudar dengan adanya penelitian yang menyimpulkan bahwa orang kaya dianggap suka berbohong, menipu, dan melanggar hukum.

Itu bukan klaim sepihak, tetapi hasil sebuah kajian yang dipublikasikan di jurnal Akademi Nasional Ilmu Pengetahuan (NAS) Amerika Serikat.Penelitian yang menguak sisi buruk orang kaya itu dikaji Paul Piff, kandidat PhD (philosophy doctor) dari Universitas California, Berkeley.”Hasil penelitian itu sangat mengejutkan,” kata Piff seperti dikutip New York Daily News.

Hasil tujuh eksperimen terhadap ratusan orang itu menunjukkan bahwa orang kaya cenderung miliki sikap dan perilaku buruk.”Anggota kelas atas”itu dianggap suka melanggar aturan lalu lintas ketika mengendarai mobil, mengambil permen dari anaknya,berbohong saat negosiasi,menipu untuk meraih hadiah,dan mendorong sikap kerja tidak etis. Kemudian, orang kaya justru menganggap ketamakan sebagai suatu hal yang positif dan menguntungkan.

Ketamakan dianggap sebagai hasil pendidikan dan kemerdekaan personal. Hasil penelitian itu menyimpulkan bahwa serangkaian eksperimen itu menguji kelas sosial dan etik. Eksperimen lainnya,pengendara sepeda motor melintasi jalanan yang padat dan tibatiba melintasi pedestrian. Mobil mewah juga mengambil jalur pedestrian saat parkir.

Hanya sedikit mobil yang berhenti untuk memberikan kesempatan bagi seorang pejalan kali menyeberang. Menurut Piff,semakin tinggi tingkatan sosialnya, orang itu semakin fokus terhadap dirinya sendiri. Untuk itu,dia berharap riset ini bakal menyadarkan orang kaya agar terus berempati terhadap kondisi sekitarnya.

”Orang kaya harus paham dengan kebutuhan orang lain di sekitarnya,”tuturnya seperti dikutip Bloomberg. Erik Gordon,profesor bisnis di Universitas Michigan, mengaku tidak terkejut dengan hasil penelitian itu.”Isu ketamakan telah berkembang selama 20 tahun terakhir,” katanya.

”Kekayaan dan kekuasaan dengan status sosial ekonomi tinggi berarti membuat seseorang mengabaikan orang lain.Mereka berpikir bahwa aturan yang berlaku bagi orang lain tidak berlaku bagi mereka,”tuturnya. ANDIKA HENDRA M

Apakah Harga BBM Perlu Naik ?

Menghitung Harga Pokok BBM

Benarkah bahwa pemerintah harus membayar subsidi BBM kepada rakyat, sehingga 1 April 2012 nanti dengan sangat terpaksa pemerintah harus menaikkan harga BBM. Kalau hanya melihat secara kualitatif, pasti yang terjadi adalah perdebatan tidak berujung alias pokrol bambu, maka kali ini kita mencoba melakukan analisis kuantitatif yang disederhanakan agar mudah diterima oleh khalayak ramai, berapa sebenarnya harga pokok BBM. 


Perhitungan ini menggunakan basis sebagai berikut:

Harga minyak mentah (crude oil) = US$ 100 per barel
Harga premium = Rp 4.500 per liter
Kurs US$ 1 = Rp 10.000
Konversi 1 barel = 159 liter

Pengertian subsidi yang keblinger:

Perhitungan ini diasumsikan bahwa seluruh kebutuhan minyak mentah (crude oil) dibeli sesuai harga internasional, maka perhitungannya adalah demikian

Harga minyak mentah per liter = US$ 100 : 159 x Rp 10.000 = Rp. 6.300 per liter
Biaya lifting, pengilangan dan pengangkutan = US$ 10 : 159 x Rp 10.000 = Rp. 6.30 per liter.
Maka Harga pokok penjualan premium adalah Rp. 6.300 + Rp. 630 = Rp. 6.930 per liter.

Ternyata premium hanya dijual dengan harga Rp. 4.500, maka pemerintah rugi sebesar 6.930 – 4.500 = Rp. 2.430 per liternya atau setara dengan subsidi Rp 145 triliyun.

Dalam bahasa pemerintah perhitugan rugi seperti ini disebut SUBSIDI. Jadi cara berpikir seperti ini dianggap seolah benar, cocok seperti text book, tapi sebenarnya merupakan cara berpikir yang keblinger.

Lebih lanjut silahkan dihitung, dari subsidi Rp 145 triliyun itu tidak semuanya dikeluarkan (cash expenses) , tetapi ada yang tidak dikeluarkan sekitar Rp 35 triliyun, kemana uang ini ?

Jadi "subsidi BBM" itu tidak sama dengan adanya uang tunai yang dikeluarkan. Dalam bahasa Bisnis, “biaya tidak sama dengan expenses”.

Perhitungan harga pokok BBM

Total produksi minyak mentah Indonesia 1.000.000 barel per hari, hak Indonesia hanya 60% sedangkan lainnya adalah hak perusahaan minyak asing (KPS = Kontraktor Production Sharing) . Minyak mentah Indonesia adalah milik rakyat sesuai pasal 33 UUD 1945 naskah asli, jadi seharusnya rakyat tidak perlu membayar, sedangkan yang harus dibayar adalah biayanya yaitu biaya lifting, pengilangan dan biaya pengangkutan. Berdasarkan realita seperti ini maka perhitugan harga pokok BBM adalah sebagai berikut:

Total konsumsi BBM per tahun = 60.000 juta liter
Total produksi BBM per tahun = 0,6 x 1.000.000 x 159 x 365 hari = 34.821 juta liter.
Maka harus impor kekurangan BBM per tahun = 25.179 juta liter

Biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah adalah:

Biaya produksi dari minyak mentah milik rakyat = 34.821 juta liter liter : 159 barel x US$10 x Rp 10.000 = Rp 21,9 triliyun

Biaya impor kekuragan minyak mentah = 25.179 juta liter : 159 barel x US$110 x Rp 10.000 = Rp 174,194 triliyun

Jadi total pengeluaran biaya penyediaan BBM = Rp 21,9 triliyun + Rp 174,194 triliyun = Rp 196,094 triliyun

Biaya tersebut untuk menyediakan 60.000 liter BBM, maka Harga pokok penjualan BBM dalah = Rp 3.268

Jika harga premium = Rp 4.500 maka pemerintah masih mendapatkan keuntungan sebesar Rp Rp 4.500 - Rp 3.268 = Rp 1.232

Kesimpulannya bahwa meskipun harga crude oil sebesar US$ 100 per barel, maka pemerintah sama sekali tidak rugi. Jadi kenaikan harga BBM dengan alasan subsidi sudah terlalu besar, itu tidak rasional, kecuali dengan alasan lain. Tentu saja perhitungan yang sebenarnya sangatlah rumit karena minyak merupakan produk multikomponen. Penyederhanaan perhitungan ini dimaksudkan agar semua pihak mudah memahami logika berpikirnya.

Dari data yang saya peroleh di www.esdm.go.id maka dapat diperoleh gambaran sebagai berikut:
 
1. Total produksi minyak bumi tahun 2010 adalah 300.872 ribu barrel
2. Total Export minyak bumi tahun 2010 adalah 121.000 ribu barrel
3. Total Import minyak bumi tahun 2010 adalah 101.033 ribu barrel
4. Total produksi BBM tahun 2010 adalah 241.156 ribu barrel
5. Total Import BBM tahun 2010 adalah 148.635 ribu barrel
6. Total konsumsi BBM tahun 2010 adalah 388.241 ribu barrel

Mengapa Indonesia mengekspor dan mengimpor minyak bumi?
 
- Ternyata ada beberapa hasil minyak bumi yang tidak sesuai dengan kilang yang dimiliki oleh Indonesia sehingga minyak yang tidak bisa diolah menjadi BBM tersebut di ekspor dan mengimpor minyak bumi yang sesuai dengan kilang yang dimiliki 
- Kapasitas kilang yang dimiliki Indonesia adalah 1,5 juta BOPD sehingga tidak sanggup untuk memproduksi sendiri

Jadi kalau dihitung-hitung:
 
dengan asumsi :
 
- persentase konsesi 70 : 30
- harga minyak bumi adalah USD 108,00 per barrel
- harga BBM USD 123,00/barrel (data bulan Januari 2012)
- harga produksi/pengelolaan USD 10,00 perbarrel

Maka:

Penggantian konsesi 90.262 ribu barrel bayar USD 9.748 juta 
Jual 121.000 ribu barrel diperoleh USD 13.068 juta
Beli 101.033 ribu barrel bayar      USD 10.912 juta
Produksi 280.815 ribu barrel bayar USD 2.808 juta
Beli BBM 148.635 ribu barrel bayar USD 18.282 juta
Total biaya untuk menghasilkan 388.241 ribu barrel adalah USD 28.682 juta.
Dengan kurs USD 1 = Rp. 9.000 maka 1 liter BBM = Rp. 4.182

Jadi harga Rp. 4.500 perliter adalah harga wajar

Mengapa harga di Singapore mahal? Karena mereka membeli BBM dan tidak memproduksi minyak bumi sehingga kalau dihitung maka USD 123 : 159 x Rp. 9.000 = Rp. 6.962 perliter

Mengapa di Arab Saudi murah? Karena mereka tidak perlu beli minyak mentah sehingga kalau dihitung secara ekstrim maka USD 10 : 159 x Rp. 9.000 = Rp. 566 perliter

Jadi apakah BBM perlu dinaikkan? Semua berpulang kepada tujuan ekonomi dan politik negara kita.

SBY apes, tidak.

Mengapa harga BBM di Indonesia "dulu" sangat murah? ya karena "tinggal ambil" dan kalaupun ada korupsi, hanya beberapa orang disekitar penguasa saja sehingga biaya "tak terduga" tidak sebegitu besar. bandingkan dengan sekarang, "biaya tak terduga" bisa bikin orang kena "Stroke"........

Jadi bukan SBY apes atau tidak tetapi tergantung pada KETEGASAN, KEPASTIAN dan PENEGAKAN HUKUM dan ATURAN sehingga menghilangkan biaya-biaya tak terduga dan yang paling penting RASA NASIONALIS dan SOSIAL dari seluruh rakyat. Saat ini yang kita lihat dan rasakan adalah MEMENTINGKAN DIRI SENDIRI.........

En la ventana



El magnetista se sienta a escribir y en el blanco del pensamiento, se detiene, y camina en círculos por su consulta. En uno de sus círculos se detiene en la ventana y entonces la ve, desnuda, detenida en el tiempo, esperando a que llueva frente a los cristales de su apartamento. Un gato la acompaña y mira la tarde como se mira un mapa en un barco a la deriva, sin comprender el sentido de las nubes, sin norte y también sin sur. La piel blanca de la mujer se confunde con la piel blanca del cielo que quiere llover. El gato gira la cabeza y se queda mirando fijo como si mirara un fantasma: mira al magnetista en la ventana de enfrente mirar a la mujer.

El magnetista retoma su tarea de escribir en folios blancos y cansados. Sentado, en el silencio que precede a las tormentas imaginó que ella lo observaba por la ventana, fumando desnuda, inventando laberintos de gato extraviado. 

Safe Creative #1208042067527

Mimpi Mobil Nasional

"Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan aku akan mengguncang dunia.” Kalimat ini kerap di ucapkan berulang-ulang setiap memperingati hari kepemudaan, maupun untuk meningkatkan rasa kebersamaan di negeri ini.

Jika dilihat dari kenyataan, kalimat Bung Karno ini memang patut diacungkan jempol dan dijadikan acuan untuk membangun negeri. Mengingatkan kita, bahwa masa depan bangsa dan negara Indonesia ini terletak di tangan generasi muda. Inilah generasi yang akan menjawab berbagai tantangan di masa yang akan datang.
Beberapa waktu lalu, diberitakan bagaimana kemampuan pemuda negeri ini mempersembahakan maha karya terbesar untuk bangsa ini. Sebuah maha karya di bidang industri otomotif. Dalam menyikapi permasalahan ini, Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa, meminta Kementerian Perindustrian untuk menggalakan produksi mobil Esemka.

Diharapkan, mobil buatan anak bangsa yang masih duduk di bangku SMK ini dapat menjadi produk nasional. Inovasi oleh anak-anak bangsa ini membuktikan kapasitas generasi muda Indonesia tidak kalah jika dibandingkan negara lain. Penulis berpendapat, kehadiran mobil Esemka merupakan momen tepat bagi Indonesia untuk secara serius mewujudkan mimpi memiliki mobil nasional.

Kemampuan di Tengah Badai

Pemanfaatan kekayaan alam, berdasarkan konstitusi yang berlaku di negeri ini, sudah sepatutnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Apa lagi selama ini Indonesia di kenal memiliki sumber daya alam yang berlimpah. Sungguh disayangkan, jika dalam pengelolaanya tidak diperuntukan untuk kesejahteraan rakyat.

Selama ini, terkesan bahwa keterbatasan sumber daya manusia dinegeri ini, menyebabkan, pengelolaan kekayaan alam, harus diserahkan kepada pihak asing. Dengungan ke tidak mampuan ini lah, yang dijadikan senjata pamungkas untuk membiarkan kekayaan negeri ini di eksploetasi dan di bawa ke negara lain.

Namun, berjalannya kemajuan jaman, yang ditandai semakin majunya teknologi, membuktikan bahwa bangsa ini mampu mengolah kekayaan alam. Bahkan, meningkatkan produktifitas kemampuan untuk meningkatkan kehidupan bangsa.

Kiat Esemka Dan Esemka Digdaya yang dibuat pelajar SMK Negeri 2, Solo, merupakan salah satu bukti nyata. Sebuah bukti yang menandakan, bahwa pemuda di negeri ini mampu menunjukan kepada dunia. Bahwa bangsa Indonesia, bukan lah bangsa yang bodoh, bangsa yang hanya bisa menikmati hasil karya negara lain, tanpa bisa menghasilkan karya.

Karya ini, merupakan sebuah langkah maju bagi kebangkitan industri otomotif di tanah air ini. Seperti kita ketahui, selama ini industri otomotif berkembang pesat, namun fakta menunjukan bahwa produk asing lah yang kerap kita jumpai dalam keseharian.

Kenyataan ini menjadikan bangsa Indonesia di cap sebagai negara dengan tingkat konsumen tertinggi. Toyota Motor Corporation merilis penjualan Toyota di Indonesia pada Februari 2009 berada di peringkat ketujuh dunia dengan meraih angka 13.839 unit. Di Asia Tenggara, posisi Indonesia berada di peringkat kedua di bawah Thailand.

Apa lagi, selama ini, sektor otomotif memegang peranan penting dalam perekonomian di negeri ini. Pada masa krisis global melanda kisaran 2008-2009, justru pasar industri otomotif beserta komponennya tumbuh subur. Pada hal di era tersebut, industri manufaktur justru mengalami hambatan. Sejak semester II 2009, industri otomotif nasional mulai bergairah setelah terkena dampak krisis ekonomi global 2008, yang membuat penjualan 2009, turun 20%.

Penjualan otomotif 2010, dapat dipastikan mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah otomotif di negeri ini. Sampai dengan Oktober 2010 saja, penjualan mobil telah mencapai 625.000 unit, melewati rekor sebelumnya di 2008 yang mencapai 603.000 unit.
Perkembangan dan kemajuan industri otomotif Indonesia dalam beberapa tahun ke depan diperkirakan bakal menjadi yang terbesar di Asia, bahkan dunia . Hanya saja, sampai saat ini industri otomotif (mobil) tanah air tidak pernah menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Sedangkan, pada November 2011 Prediksi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), memperkirakan penjualan mobil pada tahun lalu berkisar 850.000 - 870.000 unit. Sedangkan untuk tahun ini diperkirakan menyentuh angka 800.000

Pertumbuhan ekonomi yang semakin positf pun membawa tantangan tersendiri yang harus di hadapi mobil nasional. Pertumbuhan ini menyebakan masuknya investor yang mengiginkan berinvestasi dinegeri ini seperti Suzuki, Toyota, Daihatsu, Hyundai, dan Nissan

Mewujudkan Impian

Untuk mewujudkan impian dan menghadapi tantangan tersebut, diperlukan sebuah dukungan yang kuat dari seluruh komponen bangsa. Tentu saja kehadiran ESEMKA ini, memicu tanggapan yang pro maupun kontra. Ada yang sudah pesan, ada juga yang menunggu hasil uji. Kenyataan ini memicu animo tersendiri bagi masyarakat luas. Namun, secara kasat mata saja kita sudah diyakinkan potensi kedua mobil tersebut. Meski belum melewati tahapan uji kendaraan dengan lengkap, keyakinan publik terhadap produk lokal ini bisa dikatakan sangat besar.

Seperti kita ketahui, esemka, bukanlah mobil pertama yang berhasil diciptakan oleh anak-anak muda Indonesia. Beberapa mobil nasional yang menjadi pendahulu Kiat Esemka diantaranya, Komodo, Tawon, GEA, Marlip, Maleo, Wakaba, Timor dan Esemka Digdaya. Namun, sangat disayangi, mobil-mobil karya anak bangsa ini tidak mendapatkan perhatian yang cukup luas dari masyarakat di negeri ini. Memang, kita akui, pada akhirnya untuk memasuki dunia pemasaran otomotif, harus menghadapi banyak tantangan serta rintangan yang menghinggapi mobil nasional ini.

Untuk menjawab tantangan serta memenangkan pertarungan pasaran otomotif, diperlukan perhatian khusus dari masyarakat luas. Bukan sebatas sanjungan yang diberikan semata, tetapi dukungan secara penuh akan hasil karya ini.

Dalam menyikapi permasalahan ini, Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan berpendapat, bahwa pengembangan mobil-mobil buatan dalam negeri seperti yang kini marak dilakukan oleh sejumlah sekolah menengah kejuruan (SMK) di berbagai daerah di Indonesia perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak

Penulis berpendapat, pernyataan ini tidak berlebihan jika kita melihat dari kenyataan. Jangan sampai Esemka harus mengalami nasib yang sama seperti pendahulunya yang hanya mencuat diawalan dan dalam perjalanan harus mengalami nasib yang naas.

Kehadiran mobil nasional ini setidaknya mewujudkan impian bangsa ini akan keinginannya memiliki mobil nasional selama ini bangsa ini hanya menjadi konsumen produk mobil impor dari luar negeri atau sebagai konsumen mobil buatan negara lain yang kebetulan asemblingnya ada di Indonesia. Apa lagi, dalam pembuatan mobil nasional ini, di motori oleh para penerus bangsa. Setidaknya maha karya ini menjawab pernyataan Soekarno bahwa kelangsungan hidup bangsa ada di pundak pemuda dan ditangan pemuda lah pada akhirnya negara ini di tentukan. (*) (Ferry Ferdiansyah)

Mengurai Kebijakan Pembatasan BBM

Setelah berkali-kali melontarkan gagasan pembatasan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, akhirnya Pemerintah kali ini bertekad merealisasikannya. Mulai 1 April mendatang, pembatasan BBM diberlakukan di Jawa dan Bali. Lalu, pada 2013 dan 2014, kebijakan itu diperluas ke Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

Semua mobil berpelat hitam dilarang membeli BBM bersubsidi alias premium, yang harganya Rp4.500/liter. BBM bersubsidi itu hanya diperuntukkan kendaraan berpelat kuning dan sepeda motor. Untuk mobil berpelat hitam, pilihannya ada dua, harus membeli pertamax atau berpindah ke bahan bakar gas.

Kebijakan ini tidak terlepas dari meningkatnya konsumsi BBM kita, ditambah naiknya harga minyak dunia dan membuat alokasi anggaran meningkat. Hal itu yang menjadi alasan kuat Pemerintah untuk membatasi BBM bersubsidi. Selain itu, Pemerintah pun berujar bahwa subsidi BBM justru dinikmati kalangan mampu.

Sepintas lalu, alasan Pemerintah memang tampak masuk akal. Mungkin saja upaya pembatasan BBM adalah langkah positif dari Pemerintah, tidaklah patut untuk terlebih dahulu berprasangka buruk. Akan tetapi, terlalu naif juga bila kita menarik kesimpulan bahwa kebijakan pembatasan tersebut tidak terlepas dari berbagai kepentingan dan motivasi terselubung. Sehingga, alangkah baiknya bila kebijakan pembatasan tersebut kita kritisi secara mendalam sebelum diimplementasikan, tentunya dapat kita urai dan pertanyakan dari berbagai sisi.

Pertama, apakah kebijakan pembatasan BBM ini merupakan langkah awal menuju penghapusan subsidi BBM? Pertanyaan ini menjadi penting untuk diajukan, sebab bila muaranya ke arah penghapusan subsidi, harus segera ditolak. Beberapa kali wacana pencabutan subsidi BBM dilontarkan oleh Pemerintah, tetapi penolakan terhadap wacana ini sangat deras, pakar-pakar ekonomi dan energi, maupun parlemen sendiri sangat keras menolaknya.

Liberalisasi Ekonomi

Apabila Pemerintah berniat mencabut subsidi BBM, sesungguhnya hal itu tidak terlepas dari liberalisasi ekonomi yang merupakan agenda dari Washington Consensus. Ada empat hal yang menjadi agenda utama dari Washington Consensus, salah satunya adalah kebijakan anggaran ketat melalui penghapusan subsidi (Stiglitz, 2002). Tentunya dapat dengan mudah melihat sasaran dari penghapusan subsidi BBM ini, yaitu mempercepat berlakunya mekanisme pasar dalam penentuan harga minyak di Indonesia dan berada di luar kontrol Pemerintah. Bila hal ini terjadi, maka tidak ada lagi proteksi kebutuhan rakyat miskin dalam hal BBM, karena semuanya ditentukan pasar dan Pemerintah tidak dapat melakukan intervensi.

Berlakunya mekanisme pasar tentu akan menguntungkan jaringan SPBU asing, seperti Shell, Total dan Petronas yang telah masuk di beberapa kota di Indonesia. Selama ini jaringan SPBU tersebut sulit berkembang, lantaran kalah bersaing dengan SPBU yang menjual BBM bersubsidi dari Pertamina. Apabila mekanisme pasar diberlakukan, maka bukan tidak mungkin SPBU asing akan dibanjiri konsumen ketimbang Pertamina.

Bahkan, bila Pertamina dibiarkan begitu saja dan dipaksakan berkompetisi dengan perusahaan asing tersebut, mudah untuk memprediksinya, Pertamina pasti akan tumbang. Karena pada dasarnya perusahaan asing itu merupakan raksasa dunia dalam hal perminyakan, bisnis dengan jaringan modal yang besar, pasokan kuat dan memiliki manajemen yang handal. Tentunya kondisi itu berbanding terbalik dengan Pertamina, di mana Pertamina saat ini sedang melakukan transformasi dan belum siap betul untuk bertarung secara terbuka.

Kedua, Pemerintah selama ini sadar bahwa kebanyakan subsidi BBM memang dinikmati oleh kalangan mampu, sesungguhnya bukan hanya subsidi BBM, subsidi kesehatan, pendidikan, dan subsidi lainnya. Apakah semua hal itu terjadi karena kesalahan subsidi atau perilaku dari kelompok menengah-atas yang tidak peduli terhadap sesamanya yang papa? Tentunya tidak sepenuhnya kesalahan kaum menengah-atas, tetapi ada hal yang lebih substansial, yaitu struktur ekonomi yang sudah terlanjur timpang yang menjadi penyebabnya.

Ketimpangan ekonomi yang selama ini terjadi telah membatasi rakyat miskin untuk mendapatkan BBM yang sudah bersubsidi sekalipun. Meskipun BBM itu dijual dengan harga relatif "murah" karena telah disubsidi, tapi ketiadaan sumber daya ekonomi menyebabkan rakyat miskin tidak dapat membeli BBM bersubsidi itu, sehingga subsidi digunakan oleh kelas menengah-atas.

Apabila Pemerintah berniat mencegah berlanjutnya pemberian subsidi terhadap kalangan mampu, yang seharusnya dilakukan bukanlah pembatasan BBM. Pemerintah seharusnya melakukan koreksi secara sistematis terhadap struktur perekonomian yang timpang itu dan mengupayakan percepatan pengentasan kemiskinan.

Ketiga, jika mengacu pada sisi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), membengkaknya anggaran dan beratnya beban anggaran tidak dapat dikaitkan begitu saja karena subsidi BBM. Karena membengkaknya beban APBN lebih disebabkan oleh faktor cicilan dan bunga utang dalam maupun luar negeri.

Malahan, saat ini jumlah utang Pemerintah cenderung meningkat setiap tahunnya. Hal itu mengakibatkan lonjakan dalam pembayaran cicilan utang dan bunga setiap tahunnya dan menjadi beban berat APBN. Tercatat rata-rata per tahunnya pembayaran angsuran pokok dan bunga utang dalam dan luar negeri sebesar Rp. 140-150 trilyun (Baswir, 2010).

Sehingga, bila ingin mengurangi beban anggaran dalam APBN, bukanlah subsidi BBM yang dipangkas, melainkan beban utang dalam maupun luar negeri yang harus diperkecil. Peningkatan utang yang terus-menerus membuat Indonesia terjebak pada jebakan utang, yaitu "gali utang bayar utang" yang berdampak negatif bagi APBN.

Maka dari itu, Pemerintah perlu melakukan terobosan radikal berkaitan dengan utang, seperti program restrukturisasi utang untuk memotong jebakan itu. Restrukturisasi diupayakan untuk menyelesaikan beban pembayaran cicilan pokok utang dan bunga hingga mencapai angka nol rupiah dalam APBN. Tentunya dapat dilakukan lewat moratorium, penjadwalan ulang dan penghapusan utang, tanpa harus menambah utang baru. Hal ini lebih memungkinkan dilakukan untuk mengurangi beban dalam APBN ketimbang penghapusan subsidi. Bila Pemerintah berani melakukan restrukturisasi, maka secara tidak langsung menunjukkan power pemerintah Indonesia di mata internasional.

Keempat, ada upaya untuk mengarahkan atau bahkan memaksa masyarakat pemilik kendaraan pribadi beralih memakai pertamax. Berbagai pihak pun tahu dan sadar betul, bahwa perusahaan atau SPBU asinglah yang menguasai pasar pertamax di Indonesia. Oleh karena itu, upaya ini justru akan semakin memperkaya para pemain asing yang dengan sendirinya akan diuntungkan, sementara rakyat Indonesia makin sengsara.

Kelima, Pemerintah kerap kali beragumen: pembatasan BBM untuk melindungi hak penduduk miskin yang selama ini terbengkalai. Memang, selama ini subsidi BBM tidak tepat sasaran, lebih dari 70 persen subsidi BBM dinikmati orang-orang kalangan menengah-atas yang tidak berhak. Dalam posisi ini, Pemerintah terkesan heroik dan seolah sedang membela rakyat miskin dan berada di garis terdepan dalam memperjuangkan nasib rakyat miskin.

Namun, alasan ini terlalu mengeksploitasi kaum miskin, selain itu memicu terjadinya pertentangan kelas. Dan yang terpenting adalah, penduduk miskin dijadikan sebagai tameng untuk memuluskan agenda terselubung dari pembatasan BBM ini yang menurut prediksi para ekonom akan mengarah pada pencabutan subsidi.

Dari berbagai uraian di atas, apakah kebijakan pembatasan BBM merupakan langkah yang tepat dan harus dilakukan oleh Pemerintah? Menurut hemat saya, Pemerintah tidaklah perlu gegabah dan memilih opsi pembatasan tersebut. Sudah terlalu lama Pemerintahan ini tunduk pada kepentingan-kepentingan di luar rakyat, sudah saatnya kembali ke pangkuan rakyat dan benar-benar memperjuangkan kepentingan rakyat, jangan hanya retorika tanpa tindakan. ***

Oleh : Wandi Prawisnu Simanullang - Penulis adalah Aktivis Sosial, Alumni FISIP UPN Veteran dan Mahasiswa Magister Manajemen UGM Yogyakarta