Popular Posts

Tahun 2016 uang Rp. 100.000,- akan menjadi Rp. 100,-

Perbedaan Sanering dan Redenominasi

Penyederhanaan penyebutan nilai mata uang rupiah atau redenominasi akan mulai disosialisasikan ke publik.Konsultasi akan dilakukan di seluruh pelosok daerah Indonesia.
Menteri Keuangan, Agus Martowardojo, mengungkapkan, setelah berkonsultasi dan berkoordinasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat, Badan Legislasi, dan Komisi XI, diputuskan bahwa pembahasan mengenai hal tersebut akan dilakukan usai konsultasi publik, yaitu sekitar Juni 2013.

"Kami harapkan kalau konsultasi publiknya positif, pada Juni 2013, begitu masa sidang bisa disetujui," ujar Agus di Jakarta, Jumat 30 November 2012.

Agus mengungkapkan, konsultasi publik tersebut sesuai dengan instruksi Presiden pada sidang kabinet beberapa waktu lalu. Upaya tersebut dilakukan guna meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya yang di daerah pelosok terkait kebijakan itu.

Kajian secara akademis pun, menurut dia, saat ini telah selesai. "Prosesnya di pemerintah sudah dibahas antardesk, harmonisasi sudah jadi. Sekarang sudah di Badan Pembinaan Hukum Nasional," tambahnya.

Pemahaman masyarakat, dia melanjutkan, sangat penting dalam mendukung keberhasilan transisi yang akan dijalani. Masyarakat diminta memahami bahwa kebijakan ini bukan hanya penyesuaian digit mata uang, tapi harga jual dan nilai tukar juga akan ikut disesuaikan.

Agus mencontohkan, jika saat ini dengan Rp50 ribu dapat membeli satu cangkir kopi di kafe, setelah disesuaikan menjadi Rp50, harga jual kopi tersebut juga akan mengikuti. "Ini tidak mempengaruhi daya beli," tegasnya.

Dia juga mengatakan, pemerintah ingin memastikan proses penyesuaian ini berjalan baik. Karena, berdasarkan pengalaman, penerapan kebijakan serupa pada masa lalu tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Penyederhanaan mata uang itu disebut "Redenominasi"


Redenominasi adalah menyederhanakan denominasi (pecahan) mata uang menjadi pecahan lebih sedikit dengan cara mengurangi digit (angka nol) tanpa mengurangi nilai mata uang tersebut. Hal yang sama secara bersamaan dilakukan juga pada harga-harga barang, sehingga daya beli masyarakat tidak berubah. Sanering adalah pemotongan daya beli masyarakat melalui pemotongan nilai uang. Hal yang sama tidak dilakukan pada harga-harga barang, sehingga daya beli masyarakat menurun.

Pada redenominasi, tidak ada kerugian karena daya beli tetap sama, sedangkan pada sanering menimbulkan banyak kerugian karena daya beli turun drastis. Selain itu redenominasi bertujuan menyederhanakan pecahan uang agar lebih efisien dan nyaman dalam melakuan transaksi. Tujuan berikutnya, mempersiapkan kesetaraan ekonomi suatu negara dengan negara regional, sementara sanering bertujuan mengurangi jumlah uang yang beredar akibat lonjakan harga-harga. Dilakukan karena terjadi hiperinflasi (inflasi yang sangat tinggi).

Pada redenominasi nilai uang terhadap barang tidak berubah, karena hanya cara penyebutan dan penulisan pecahan uang saja yang disesuaikan, sedangkan pada sanering, nilai uang terhadap barang berubah menjadi lebih kecil, karena yang dipotong adalah nilainya. Redenominasi juga biasanya dilakukan saat kondisi makro ekonomi stabil. Ekonomi tumbuh dan inflasi terkendali, sedangkan sanering dilakukan dalam kondisi makro ekonomi tidak sehat, inflasi sangat tinggi (hiperinflasi).

Redenominasi dipersiapkan secara matang dan terukur sampai masyarakat siap, agar tidak menimbulkan gejolak di masyarakat, sementara sanering tidak ada masa transisi dan dilakukan secara tiba-tiba.
Pada waktu terjadi inflasi, jumlah satuan moneter yang sama perlahan-lahan memiliki daya beli yang semakin melemah. Dengan kata lain, harga produk dan jasa harus dituliskan dengan jumlah yang lebih besar. Ketika angka-angka ini semakin membesar, mereka dapat memengaruhi transaksi harian karena risiko dan ketidaknyamanan yang diakibatkan oleh jumlah lembaran uang yang harus dibawa, atau karena psikologi manusia yang tidak efektif menangani perhitungan angka dalam jumlah besar. Pihak yang berwenang dapat memperkecil masalah ini dengan redenominasi: satuan yang baru menggantikan satuan yang lama dengan sejumlah angka tertentu dari satuan yang lama dikonversi menjadi 1 satuan yang baru. Jika alasan redenominasi adalah inflasi, rasio konversi dapat lebih besar dari 1, biasanya merupakan bilangan positif kelipatan sepuluh, seperti 10, 100, 1.000, dan seterusnya. Prosedur ini dapat disebut sebagai "penghilangan nol". 

Ketika terjadi redenominasi, data keuangan yang dipengaruhi oleh perubahan tersebut harus disesuaikan. Contohnya, produk domestik bruto (PDB) Bank Sentral Nikaragua yang didokumentasikan dengan baik.
Mengapa Redenominasi Rupiah Perlu Dilakukan?

Banyak kalangan yang masih bingung dengan rencana pemerintah melakukan redenominasi mata uang rupiah. Mengapa redenominasi perlu dilakukan dan apa bedanya dengan sanering?

Redenominasi merupakan penyederhanaan nilai mata uang rupiah tanpa mengurangi nilainya, sedangkan sanering merupakan pemotongan nilai uang.

Redenominasi rupiah direncanakan pemerintah dengan memangkas 3 angka nol disetiap uang rupiah yang beredar. Misal harga Bensin Premium sebelum redenominasi adalah Rp4.500, maka setelah redenominasi, harganya menjadi Rp4,5. Lantas uang Rp1.000 menjadi Rp1, uang Rp100.000 menjadi Rp100. Bagaimana dengan uang Rp500 dan Rp100? Uang Rp500 menjadi 50 sen dan uang Rp100 menjadi 10 sen.

Rencana pemerintah melakukan redenominasi memerlukan waktu panjang, mengingat beberapa tahapan perlu dilakukan. Mulai dari sosialisasi, masa transisi, penarikan rupiah lama dan menghilangkan kata “baru” di mata uang.

Pemerintah pusat akan menggencarkan kembali sosialisasi pada bulan Desember 2012. Sosialisasi ini perlu dilakukan secara gencar terutama kepada kalangan menengah dan bawah yang belum tersentuh.

Pemberlakuan redenominasi akan dilakukan mulai tahun 2013 hingga 2015 atau disebut masa transisi, dimana harga harga barang harus mencantumkan dua harga misalkan harga barang Rp10.000, harus ditulis harga Rp10.000/Rp10. Pada saat masa transisi ini akan ada 2 jenis uang yg diterbitkan oleh BI, yaitu "Rupiah" lama dan "Rupiah Baru" yang dibuat dan didesain sama persis. Bedanya, nilai nominal pada Rupiah Baru sudah diredenominasi.

Penarikan rupiah lama secara perlahan akan dilakukan tahun 2016 – 2018, dan kata “baru” di mata uang akan dihilangkan mulai tahun 2019.

No comments:

Post a Comment